Jumlah Sperma Pria Eropa Turun 50 Persen

, , Leave a comment

Jumlah Sperma Pria Eropa Turun 50 Persen

Cerita mengenai kemandulan umat manusia sempat jadi tema hiburan mulai sejak lama. Alfonso Cuaron, umpamanya, mengangkat narasi novel “Children of Men” ke layar-lebar pada 2006. Remake serial The Handmaid’s Tale juga ditayangkan mulai sejak th. ini. Walau memetik pujian sekalian kecemasan, sebab merasa sangat realistis, keduanya tetaplah pergi dari cerita fiksi (demikian pula sebagian besar film atau serial bertopik post-apocalypse dari Hollywood).Toko Herbal

Tempo hari mencuat berita yang menarik (25/7/2017). Menurut hasil riset paling baru yang diupload di Jurnal Human Reproduction Up-date, beberapa pria di negara-negara Barat alami penurunan jumlah sperma sampai lebih dari separuh bila dibanding jumlah sperma yang terdaftar pada 40 th. yang lalu.

Dr. Hagai Levine dari Hebrew University of Jerussalem yaitu kepala riset yang bekerja bersama dengan tim peneliti internasional dari Brazil, Denmark, Israel, Spanyol, serta Amerika Serikat. Keseluruhan penelitian yang dianalisis menjangkau 185 buah serta dibuat selama periode th. 1973 sampai 2011. Bila ditotal, partisipannya sejumlah 42. 935 pria yang datang dari 50 negara.

Akhirnya diketemukan penurunan sebesar 1, 4 % per th. atau 52, 4 % selama periode 1973-2011 (38 th.) pada pria yang tinggal di Amerika Utara, Eropa, Australia, serta Selandia baru. Temuan ini mencengangkan Levine sampai ia awalannya nyaris tidak yakin. Yang menarik, seperti ia ungkapkan pada CNN, keadaan itu dengan penting tidak diketemukan pada beberapa pria yang dinggal di Asia, Afrika, serta Amerika Selatan.

Wacana kemandulan pria sering jadi tema yang hangat diperbicangkan terkecuali masalah kemandulan yang dialamatkan pada kaum wanita. Penelitian sama telah banyak dipublikasikan, tetapi banyak yang dibantah ataupun dikritisi. Penelitian Levine serta kawan-kawan pantas dikaji sebab dinilai jadi satu diantara yang paling komprehensif dari sisi sumber.

Satu diantara temuan terutama dalam penelitian itu yaitu kenyataan kalau penurunan jumlah sperma tidak cuma berlangsung pada beberapa bapak serta pria dewasa, tetapi juga pada generasi muda. Anak-anak muda ini diistilahkan jadi yang “tak terpilih”. Mereka bukanlah bapak biologis terlebih miliki pasangan yang hamil. Jadi kekuatan sperma mereka belum juga sempat diuji-coba dengan riil.

Rata-rata jumlah sperma yang dipunyai barisan pria muda yang terdaftar pada 1973 yaitu sejumlah 99 juta per mililiter. 38 th. sesudahnya, angka rata-ratanya turun jadi 47 juta per mililiter.

Jumlah ini masih tetap termasuk sehat menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan minimum 15 juta per mililiter, tetapi WHO sempat menerangkan kalau sperma dibawah 40 juta per mililiter juga akan mulai menyebabkan masalah bila yang berkaitan menginginkan menghamili pasangannya. Disamping itu bila telah dibawah 15 juta per mililiter jadi nyaris di pastikan yang berkaitan tidak juga akan dapat menghamili pasangannya.
Sebagian Respon pada Penelitian Levine, dkk
Banyak ikhtiar untuk ketahui penyebabnya penurunan jumlah sperma pada pria. Michael Duorson, profesor di Risk Science Center, berkata pada CNN kalau obesitas mungkin saja akar persoalan. Tetapi profesor di University of Cincinnati College of Medicine itu tidak ingin meyakinkan sebab — sayangnya — penelitian Levine dkk., memanglah tidak mencangkup pengukuran serta analisa Indeks Massa Badan (Body Mass-Index/BMI).

Dourson menyebutkan temuan penelitian Levine dkk., termasuk solid serta bukanlah berdasar pada kesempatan saja. Seperti di ketahui, kadang-kadang penelitian mengenai kemandulan didasarkan pada kesempatan kehamilan. Tetapi temuan Levine dkk., tidak sekian. Pada umumnya, tuturnya, butuh riset serta eksplorasi lanjut, terlebih untuk ketahui penyebabnya tentu serta apa yang butuh disiapkan umat manusia setelah itu.

Dr. Harry Fish, profesor klinis urologi di Weill Cornell Medicine, termasuk ada di barisan mereka yang berasumsi penemuan itu menarik tetapi masih tetap tersisa beberapa pertanyaan. Terlebih di bagian metodologi pengukuran jumlah sperma yang belumlah ada standarisasi yang pasti untuk semuanya negara.Kiosherbalku

Waktu di tanya akar permasalannya, ia mengatakan ada aspek lingkungan, tetapi ini juga dapat dibagi pada yang “tak kontroversial” serta ” yang kontroversial “. Menurut Fish, aspek lingkungan yang dapat di terima yaitu perubahan suhu bumi dengan berlebihan atau yang di kenal dengan fenomena pemanasan global. Sayang, keterangan rincinya tidak ia katakan.

 

Leave a Reply